Senin, 09 Agustus 2010

Begitu Mudahnya

                “Begitu mudahnya” aku kira itu adalah kata-kata yang sering ia katakan saat sedang menonton kuis berhadiah di tv, baik itu tv miliknya ataupun tv milik tetangganya. Ya aku rasa ia pantas untuk berkata seperti itu, selain berkata “begitu mudahnya” ia juga melihat  ketidak adilan yang dirasakan, keinginan bernasib sama dengan orang-orang yang muncul di layar kaca itu pastinya. Namun, ia hanya bisa menyadari jarak antar impian itu dan mensyukuri apa yang ia punya. Baginya untuk hari ini ia dan anak-anaknya bisa mengunyah sesuap nasi pun ia sudah gembira, karena semangat dan keinginanya untuk bisa memenuhi kebutuhan, ia pun bekerja tanpa mengenal lelah.
                Jarum pendek sudah berhenti di angka 1 dan jarum panjangnya tepat di angka 12. Ia pun melupakan apa yang iya lihat di tv saat ia sedang istirahat makan siang dan sholat Dzuhur tadi, dan melanjutkan pekerjaannya, yaitu sebagai pemecah sekaligus pengangkat batu-batu kali yang berat itu ke truk. Sangat beresiko memang, tapi dia berusaha agar tidak terjadi kesalahan kerja dan terus bersholawat agar selalu dilindungi oleh Allah SWT.
                Andai aku mengikuti sebuah acara yang dinamakan “andai aku menjadi” dan aku diposisikan sebagai pemecah batu. Aku mungkin tidak akan sanggup menjalaninya. Mungkin kalian juga. Tapi bila saat itu hukumnya wajib, dan akupun harus menjalaninya  aku tidak akan senyaman ini, yang tadinya hanya duduk dan menatap ke layar dan asik bermain game dan jejaring sosial, namun harus memecah kan batu kali yang keras dan mengangkat pecahan-pecahan batu kali yang banyak itu ke truk.
Lelah , panas terik, keringat, itu yang akan kukeluhkan. Tapi bila aku melihatnya memecah batu, aku bertanya dalam hati “mengapa ia begitu semangat ?” dan aku tahu jawabannya, karena di punggungnya terdapat beban berat yang menumpuk dan slalu mengingatkan dan menyemangatinya agar ia bisa pulang dengan 1kg beras dan 1iter minyak tanah  untuk makan&masak keluarganya. Lalu ia pulang kerumah saat adzan ashar. Begitu mulia niatnya itu.
Balik ke topik “begitu mudahnya”. Mengapa ia berkata seperti itu? Karena kuis berhadiah yang tampil di tv sebuah warteg(dia sedang makan dan menonton tv, di traktir temannya yang sedang dapat rejeki lebih) yang ia tonton tadi siang. Kuis yang tidak seberapa susah untuk ia jawab, namun hadiah yang dijanjikan sangat mencengangkan nya!. Hanya menjawab 1 soal judul lagu/mengisi 1 soal tts yang ada di layar kaca saja diberikan Rp 2000.000 ,menurutku iya bisa menjawab soal-soal itu dengan mudah, karena tiap hari iya bekerja memecah batu selalu didampingi radio yang menyetel musik-musik terkini, dan ia juga sering mengisi tts di Koran-koran dan buku kecil yang beredar di tukang Koran.
Hmm.. belum lagi di penghujung acara ada yang dinamakan “babak bonus” yang tidak lain adalah untuk melipat gandakan uang yang sudah dikumpulkan dari beberapa soal yang berhasil dijawab. Bukan mustahil kalau orang yang mengikuti kuis itu bisa membawapulang Rp 20.000.000 pada hari itu. Ckckck (iya menggelengkan kepala). Dan ada juga orang yang tampil di tv (presenter)yang hanya berdiri di depan kamera dan membacakan gossip-gosip aneh yang ditulis dan dikarang oleh orang lain, tetapi sehari iya sudah bisa membawa pulang uang jutaan. Iya berkata betapa mudahnya pekerjaan itu, berbeda 180 derajat dengan si pemecah batu seperti aku ini
Bila seharian ia bekerja memecah batu dibawah terik matahari yang menyengat tajam, denagn debu-debu pecahan batu kali, keringat, dan resiko tertimpa batu-batu kali itu dia hanya mendapatkan upah Rp 15.000 . Yang PAS untuk membeli beras dan minyak tanah,)sementara lauknya ia dapat dari sekeliling rumahnya ,berjejer 4 pohon singkong untuk dimasak daun dan singkongnya). Sedangkan para artis layar kaca itu, hanya duduk manis dan berbicara seperlunya di ruangan ber-AC, terlindung dari sengatan sinar matahari yang panas, dan tentunya terbebas dari debu pecahan batu kali. Seharinya artis layar kaca itu mendapatkan upah Jutaan yang sangat lebih untuk membeli kebutuhan pokok nya.
Yaaaah aku sadar perbedaan itu terlalu jauh, ia pun sadar tentang hal itu. Dan  saat ia mendengar sahutan adzan maghrib dari sebuah masjid dekat rumahnya iya langsung melupakan hal yang ia sebut “begitu mudahnya” itu, tapi sebelum ia pergi melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslim, yaitu sholat maghrib di masjid. Ia terlebih dahulu melihat sekelilingnya , ada seorang anak laki-laki yang sedang menghibur 2 adik nya yang sedang bercanda dan berlomba menjawab kuis buatan kakaknya itu, petanyaan yang sederhana dan lucu namun berhadiah sebuah apel lezat(entah siapa yang bakalan menang, tapi akhirnya apel itu pun dibelah dua dengan adil untuk kedua adiknya itu agar tidak ada yang merasa sedih J dan mereka pun tertawa,tersirat warna kegembiraan dan kebahagiaan di wajah manis mereka). Ia tertawa kecil dan berkali-kali mengucap syukur alhamdulilah dengan apa yang ia miliki sekarang ini. Kebahagiaan yang tidak akan terganti dengan uang jutaan, maupun ketenaran layar kaca. TAMAT

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

" FIGHT like a TIGER, and WIN like a CHAMPION "